Duh, baru masuk blog lagi nih, ketawan jarang (banget!) posting, jadi blog-nya udah berdebu gini..
Kenapa ya malas posting? Padahal hidup gue rasanya selow-selow aja, gak ada kesibukan luar biasa.. kemalasan luar biasa mungkin iya :p
Malas bikin blog, karena bingung mau ngisinya apa. Plus, keterbatasan kuota internet juga (fakir kuota kakaaaak..)
TAPI, setelah menekuni hobi blogwalking dan kemudian disuruh nulis tentang blogger, jadi terlecut lagi semangat buat nulis blog. Yaaay!!
Meski tetep masih saja bingung mau nulis apa, soalnya blog ini isinya sampah, HAHAHAHA (tertawa getir)
Iyalah sampah, cuma curhatan tok.
Masak-masakan ora iso, travelling ora sering, ngerti techno juga engga, otomotif apalagi, fashion? ya keleus..
Karena masih bingung menentukan blog ini arahnya mau kemana, saya jadi mikir gimana kalo yang diduluin itu mengkontinyuikan (apalah ini bahasa gueee) menulis saja! YHA!!
Sampai pada masa saya udah tau mau mengarahkan blog ini kemana, sebaiknya saya berlatih rajin nulis dulu deh!
Untuk kali ini, (terinspirasi dari blognya icha) maka saya coba me-maintenance blog ini dengan postingan "bertema".
Karena kerjaan saya musti ketemu banyak orang, tanpa disadari saya akan punya kemungkinan besar untuk ketemu banyak orang baru/asing/i never wonder to met. Rata-rata memang untuk kebutuhan liputan aja, tapi somehow, kalo dipikir2 lagi
Enggak selalu menarik, menginspirasi, dan membuat perubahan juga sih, biasa aja. Tapi saya mau melatih kemampuan nulis untuk menceritakan ulang tentang mereka-mereka, si orang baru yang benar-benar asing buat saya itu.
So, here they are :)
***
KAMI janjian untuk wawancara jam 10, setelah sehari sebelumnya bikin janji lewat Line. Ketemu di Two Cents Cafe, Jalan Riau, yang mana menurut saya adalah ide brilian. Karena masing-masing tidak perlu "enggak enak hati" urusan siapa-mentraktir-siapa :)))
Soalnya, di cafe ini kalo mau pesen harus di kasir, alias bayar duluan. Bayangkan kalo di banyak tempat makan kan sukanya pesen duluan, baru terakhir bayar. Sungguh momen tak mengenakkan (terutama buat orang macam saya*) pas billing dateng, Yang musti bayar gue (sebagai pewawancara) atau doi (sebagai narasumber)?
*Orang macam saya adalah orang yang senang dijajanin dan ditraktir karena keseringan bokek ketibang banyak duitnya. Tapi sekaligus orang yang paling gak-enakan (derita lo itu mah, Va). Jadi kalo nemu momen begini, hanya bisa pasrah, kalo narsum yang bayar alhamdulillah, kalo engga, ya mau gimana lagi kan ya
Cukup ya penjelasan bintang-nya.
Lanjut lagi ke soal ranie dan Victor. mereka adalah pasangan pacaran yang hobi jajan dan makan. Plus keduanya lulusan desain grafis Maranatha, jadi tiap makanan dateng suka difoto2 dulu. Semakin lama, foto makanan makin banyak, akhirnya mereka posting deh di akun sosial media, terutama Instagram.
Cuman, lama-lama mereka malu sendiri kalo keseringan posting makanan di akun pribadi, takutnya malah ganggu timeline ya kan.. Akhirnya, mereka joinan bikin akun khusus buat posting foto makanan yang namanya @dunia_kulinerbdg. Berbekal mainan hashtag #dunia_kulinerbdg dan #kulinerbandung, akun ini akhirnya ter-promote dan mulai banyak yang ngintip. Yakali isi akun makanan semua, mana fotonya cakep-cakep, bikin ngeces yang liat.
Setahun berlalu, akun ini semakin "naik" pamornya, dan jadi banyak dipercaya klien-klien yang minta di-review menu jualannya. Oke, sampe sini, gak ada yang spesial yah dari mereka yang bisa disebut food blogger.
Saya mulai tertarik pas mereka cerita, bahwa mereka ENGGAK pernah pake caption/nulis soal rasa dari makanan. Pertama, rasa itu masuknya selera, tiap orang beda-beda. Kedua, mereka enggak mau nipu followers-nya dengan kata-kata.
Pokoknya, mereka cuma mau memberi informasi dan berbagi menu-menu makanan yang pernah mereka cicipi. tentu aja informasi yang dibagi yang proper aja, alias yang diperlukan doang. Seperti lokasi, menu yang ada, serta kisaran harga.
Soal harga yang cukup penting. Karena rata-rata orang itu tertarik ingin dateng ke lokasi makan setelah liat foto > liat lokasi jauh atau engga > lalu liat harga mahal atau engga, jadi tau musti nyiapin duit berapa.
Ranie sendiri bilang kalo dia selalu posting hal-hal yang kira-kira enggak ganggu pengguna sosmed lainnya. Mereka berusaha enggak posting di jam-jam yang aneh, enggak nulis review yang "menutup" rejeki orang, dan selalu pakai foto punya sendiri. At all, semua postingan adalah yang sudah lolos seleksi lidah mereka. Kalo yang gak enak, enggak diposting.
Mereka juga serius loh jadi food blogger. Malah sekarang udah bikin website sendiri, duniakulinerbandung.com. Menurut mereka, jadi blogger itu menyenangkan, hobi yang dibayar soalnya. Iya, dibayar, karena banyak orang yang tertarik untuk promote makanannya di akun mereka. Seminggu bisa lebih dari lima klien yang minta didatengin. Pantes aja Ranie sampe resign, sibuk sih ya, tiap hari kudu icip2 mulu, paling banyak sampe ke tiga tempat loh..
Pasangan ini masih muda, belum berencana menikah, good looking, dan yang bikin saya tertarik sama mereka, aura pertemanannya yang kental. Enak diajak ngobrol, atau mungkin karena mereka ngerti celetukan saya yang mostly dalam bahasa sunda loma-cukup-kasar ya?
Satu lagi, mereka itu seringkali posting untuk bantu si penjual makanan itu, padahal mereka enggak ada kerja sama. Ranie cerita, dia sering tuh nyicipin makanan yang enak banget, tapi tempatnya sepi. mungkin kurang promosi, makanya dia mau bantu share di sosmed :)
Nice to meet you, Ranie and Victor.
________________________________
"Paling seneng itu kalo udah posting makanan enak tapi tempatnya sepi, terus besok-besoknya pas ngelewat kesitu udah jadi agak ramean. Saya ngerasa postingan kemarin ada manfaatnya," -Ranie Esme
"Kami enggak mau hardselling. Karena itu nipu orang dengan kata-kata," -Victor Hamdani
No comments:
Post a Comment